Biografi Ki Hajar Dewantara: Diasingkan ke Belanda, Tanggal Lahirnya Diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional

Profesi wartawan pun digeluti Ki Hajar Dewantara. Dia berkiprah di sejumlah surat kabar dan majalah kala itu, seperti Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Dalam tulisannya, Ki Hajar Dewantara kerap melontarkan kritik sosial politik kaum bumiputra kepada penjajah.

Ki Hajar Dewantara juga aktif di Boedi Oetomo yang berdiri pada 1908. Masuk Divisi Propaganda, Ki Hajar terus menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.

Pada 25 Desember 1912, Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Ki Hajar Dewantara yang dikenal sebagai Tiga Serangka, mendirikan Indische Partij. Organisasi ini bergerak di bidang politik dengan tujuan mencapai Indonesia merdeka.

Ki Hajar Dewantara terus melontarkan kritikannya kepada kolonial Belanda. Bahkan, akibat tulisan berjudul “Seandainya Aku Seorang Belanda” atau “Als ik een Nederlander was”, yang dimuat dalam surat kabar De Express pimpinan Douwes Dekker, 13 Juli 1913, Ki Hajar dibuang atau diasingkan ke Pulau Bangka.

Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo tak tinggal diam. Keduanya protes. Ketiganya pun kemudian diasingkan ke Belanda selama enam tahun, sejak 1913-1919.

Dibuang jauh dari tempat kelahiran, Ki Hajar Dewantara tak tinggal diam. Dia memanfaatkan masa itu dengan belajar ilmu pendidikan. Akta Guru Eropa (Euroeeshe Akte) pun diraihnya.

Kembali ke Tanah Air pada 1919, Ki Hajar tetap mengkritik penjajah. Dia juga berkarier sebagai guru. Lalu, pada 3 Juli 1922, Ki Hajar Dewantara kemudian mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa atau Perguruan Nasional Taman Siswa.

Semboyan yang dipakai perguruan ini adalah Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani. Artinya, Di depan memberi contoh, Di tengah memberi semangat, Di belakang memberi dorongan.

Pada masa pendudukan Jepang, Ki Hajar tetap memperjuangkan nasib bangsa. Baginya, Jepang bukanlah saudara tua bagi Indonesia.

Ketika Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) terbentuk pada 12 Agustus 1945, Ki Hajar Dewantara adalah salah satu anggota PPKI yang ditunjuk tanpa seizin Jepang.

Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Ki Hajar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pengajaran. Ki Hajar Dewantara meninggal pada 26 April 1959 di Yogyakarta, kemudian dimakamkan di Taman Wijaya Brata, Yogyakarta.

Ki Hajar Dewantara dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden Nomor 305 Tahun 1959 28 November 1959. Tanggal kelahirannya, 2 Mei, kemudian diperingati sebagai Hari Pendikan Nasional (Hardiknas).

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *